Berpengaruh Tinggi, Ini yang Perlu Brand B2B Lakukan dengan LinkedIn

Tahukah Anda bahwa LinkedIn berada di peringkat tertinggi sebagai platform media sosial B2B? Menurut laporan benchmark B2B terbaru Content Marketing Institut e, 92% pemasar B2B menggunakan media sosial untuk distribusi konten, dengan penggunaan email (93%), sementara LinkedIn menguasai 97% pemasar B2B yang menggunakan media sosial, hampir dua kali lipat jumlah yang dilaporkan pada tahun 2010.



Mengapa LinkedIn?

LinkedIn umunya digunakan sebagai cara untuk menemukan peluang karir melalui job listing dan jaringan di dalamnya, tapi bukan hanya hal tersebut yang membuat orang-orang kembali membuka LinkedIn secara teratur akhir-akhir ini. Saat ini, pengunjung melihat konten di LinkedIn tujuh kali lebih sering daripada job listing. Tidak sulit untuk melihat mengapa hal ini terjadi, karena LinkedIn telah berkembang menjadi platform konten, baik memperoleh dan mengintegrasikan layanan konten lainnya.

Singkatnya, LinkedIn berkembang dan membangun reputasi tersebut agar menjadi satu tempat bagi para profesional untuk tetap mengetahui informasi, tetap terhubung, dan belajar.
Laporan Edelman Trust Barometer 2017 mengungkapkan bahwa 62% orang mempercayai media sosial lebih dari sekadar iklannya. Dan Business Insider's Digital Trust Report menemukan bahwa LinkedIn jauh lebih dipercaya oleh pengguna daripada Facebook atau Twitter.


Memanfaatkan LinkedIn bagi brand

LinkedIn mampu mendorong media social leads sebesar 80%. Padahal jika semua platform media sosial lainnya digabungkan hanya mampu menghasilkan prospek sebesar 19,67%.



LinkedIn juga dianggap sebanding dengan publikasi seperti The Wall Street Journal dan Forbes. Hal tersebut mencerminkan bagaimana orang-orang menggunakan platform dan bagaimana mereka melihat LinkedIn sebagai produk yang terpercaya. Hal ini bagi sebuah brand merupakan kesempatan besar.

Akan tetapi, banyak brand tidak mengambil keuntungan penuh dari otoritas dan kepercayaan itu. "Hanya 3% karyawan yang memiliki konten yang relevan dengan perusahaan, jadi masih ada peluang besar bagi pemasar untuk melihat basis karyawan mereka.


Tidak hanya untuk campaign saja
Disaat kebanyakan pemasar B2B sudah menggunakan LinkedIn, beberapa masih menggunakannya sesekali saja disaat waktu, anggaran, dan sumber daya memungkinkan, atau saat ada kampanye besar atau peluncuran produk.

Hampir semua pembeli B2B (akan mengkonsumsi) 10 konten selama proses pembelian, jadi, jika Anda ingin berada dalam rangkaian pertimbangan itu dan Anda ingin menjadi bagian dari 10 konten, Anda harus terlihat setiap saat. Brand yang berkembang dan melakukan dengan sangat baik - mendapatkan laba atas investasi terbaik dan kinerja terbaik dari kampanye mereka - adalah mereka yang menggunakan strategi “always-on” ini.



Hal ini benar-benar membantu membangun kepercayaan pada brand, apalagi ketika brand sudah memiliki fokus dan kata kunci atau subjek kunci dan dikenal karena topik dan tema tersebut. Lalu mereka bisa menggunakan kesempatan tersebut untuk mempromosikan diri (produk/jasa) mereka sendiric.


Content leadings to the conversions

Sementara pemasar B2B menghabiskan banyak waktu untuk menerbitkan dan berbagi konten di LinkedIn untuk membangun pengikut, sebagian besar pada akhirnya ingin agar audiens mengikuti tautan ke situs web atau di mana pun yang prospeknya dapat ditangkap atau konversi dapat terjadi.





Biasanya orang mengkonsumsi setidaknya tiga sampai empat lembar konten sebelum mengeklik untuk terlibat dengan brand di platformnya. Mengharapkan orang untuk masuk ke newsletter Anda dan kemudian mendownload sesuatu adalah hal yang cukup challenging. Di sinilah kita perlu lebih kreatif dengan konten yang kita lakukan di LinkedIn. Untuk mengoptimalkan LinkedIn perusahaan Anda, hal-hal yang dapat dilakukan dapat Anda simak disini.


Source: Content Marketing Institute

SHARE: